Tuesday, 26 November 2013

makalah budidaya tiram mutiara

MAKALAH MULOK
BUDIDAYA TIRAM MUTIARA


Disusun oleh :
ANGGITA DWI OKTAVIANI
DERIE ERAWAN
DETA OKTARIANI
DHIYA NAJMAH
DICKY DWI AZHARY
DWI SHERLI VIANI
M. ADITYA RAMADHAN
RATNA JUWITA

DINAS PENDIDIKAN KOTA BENGKULU
SMA NEGERI 6 KOTA BENGKULU
T.A. 2012/2013
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini sesuai dengan harapan. Makalah ini berjudul “BUDIDAYA TIRAM MUTIARA”, membahas cara-cara untuk membudidayakan, memproduksi, dan lainnya dari tiram mutiara.
Dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada guru MULOK SMA Negeri 06 Kota Bengkulu, Ibu Irma yang telah banyak memberikan pengarahan dan masukan dalam penulisan makalah ini sehingga berjalan lancar.

Bengkulu,     Februari 2013

                                                           
         Kelompok IV




















BAB I
PENDAHULUAN
1.1.     Latar Belakang
Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar dalam usaha budidaya. Potensi ini di dukung oleh tersediannya bahan dasar yang cukup banyak, persyaratan lingkungan yang baik, serta kondisi musim yang menguntungkan untuk berbagai jenis komoditas laut yang akan dibudidayakan. Salah satu potensi laut dari non ikan yang dapat di budidayakan adalah tiram mutiara (Pinctada maxima) yang pada intinya akan menghasilkan mutiara.
Budidaya tiram mutiara sudah cukup lama berkembang di Indonesia. Bahkan sampai pada saat ini ada lebih 65 perusahan, baik dalam bentuk modal asing maupun dalam bentuk modal dalam negeri. Tuntutan utama dalam budidaya mutiara adalah tersedianya tiram mutiara ukuran operasi dalam jumlah yang cukup, tepat waktu, dan berkesinambungan. Namun, keuntungan penyediaan tiram tidak mungkin hanya mengandalkan hasil penyelaman di alam, apalagi hasil penyelaman di alam sangat fluktuatif, tergantung musim, dan ukurannya tidak seragam. Mutiara yang ukurannya di bawah standar harus dipelihara sampai besar sehingga diperlukan waktu dan tambahan biaya yang tidak sedikit.
Menghadapi situasi yang demikian sangat perlu diusahakan kegiatan yang mengarah pada kegiatan penyediaan benih melalui pembenihan buatan sehingga dapat menjadi suatu unit budidaya tiram yang akan menghasilkan produksi mutiara yang jauh lebih besar. Akibat dari keterbatasan ini maka dalam usaha budidaya tiram mutiara, perlu melakukan kegiatan untuk mempelajari sifat dan kebiasan hidup tiram mutiara, baik dari persyaratan lingkungan pemeliharaan, metode atau cara pemeliharaan dan peralatan yang digunakan untuk memproduksi mutiara yang berkualitas. Mengingat lokasi budidaya di laut yang dipengaruhi oleh alam dan sekitarnya, sehingga membudidayakan tiram mutiara haruslah menyesuaikan dengan kondisi alam atau perairan sekitarnya sebagai tempat hidupnya dengan kehidupan biologis dan fisiologis dari tiram mutiara yang dipelihara, dengan tujuan agar tiram hidup dengan baik.

1.3. Rumusan Masalah
            Rumusan masalah dalam makalah ini adalah
      1.      Bagaimana metode pembuatan sarana budidaya?
      2.      Bagaimana teknik produksi tiram mutiara?
      3.      Bagaimana teknik budidaya tiram mutiara?
      4.      Apa saja jenis dan teknik kultur pakan alami skala murni dan semi massal fitoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara?
      5.      Apa saja hama dan penyakit pada tiram mutiara?

1.2. Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
      1.      Mengetahui Metode Pembuatan Sarana Budidaya.
      2.      Mengetahui Teknik Produksi Tiram Mutiara
      3.      Mengetahui Teknik Budidaya Tiram Mutiara
      4.      Mengetahui Jenis dan Teknik Kultur Pakan Alami Skala Murni dan Semi Massal fitoplankton yang Digunakan Sebagai Pakan Larva Tiram Mutiara.
      5.      Mengetahui Hama dan penyakit Tiram mutiara


1.3. Manfaat
            Manfaat dari penulisan makalah ini adalah

Rumusan masalah dalam makalah ini adalah
      1.      memberikan informasi tentang metode pembuatan sarana budidaya
      2.     memberikan informasi tentang  teknik produksi tiram mutiara
      3.      memberikan informasi tentang teknik budidaya tiram mutiara
      4.      memberikan informasi tentang jenis dan teknik kultur pakan alami skala murni dan semi massal fitoplankton yang digunakan sebagai pakan larva tiram mutiara
      5.      memberikan informasi tentang hama dan penyakit pada tiram mutiara

















BAB  II
HASIL DAN PEMBAHASAN
2.1. Metode Pembuatan Sarana Budidaya Tiram Mutiara
           Sarana pemeliharaan tiram mutiara pada umumnya dilakukan dengan metode pemeliharaan gantungan (hanging culture method), pada prinsipnya metode ini terdiri dari alat gantungan dan tempat untuk meletakkan gantungan. Metode pemeliharaan gantungan dibagi lagi menjadi dua metode yaitu, metode rakit terapung (floating raft method) dan metode tali rentang (long line method)
        2.1.1. Metode Rakit Apung (floating raft method)                        
Rakit apung selain berfungsi sebagai pemeliharaan induk, pendederan, dan pembesaran, juga berfungsi sebagai aklimatisasi (beradaptasi) induk pasca pengangkutan. Menurut Priyono (1981), pemeliharaan mutiara umumnya dilakukan dengan metode rakit apung. Cara ini banyak digunakan karena lebih mudah dalam pengawasan serta hasilnya lebih baik dari pada cara pemeliharaan dasar (botton culture method). Bahan utama metode ini adalah kayu rakit (kayu atau bambu), pelampung (drum minyak, fiber glass, styrofoam), tali-tali dan jangkar (Mulyanto, 1987).
       
2.1.2 Metode Tali Rentang  (long line method)
Menurut Winanto, et. al. (1988), bahwa pelampung yang digunakan adalah pelampung dari plastik, styrofoam, dan fiberglass. Tali rentang yang digunakan adalah dari bahan polyethelen atau sejenisnya dipasang diantara tali yang satu dengan yang lainnya yang diberi jarak 5 meter dan panjang tali rentang tergantung dari luas budidaya. Metode tali rentang dapat diterapkan pada perairan yang dasarnya agak dalam atau dasar perairan agak keras.

2.2. Teknik Budidaya Tiram Mutiara (Pinctada maxima)
Pada prinsipnya, untuk dalam keberhasilan pemeliharaan tiram mutiara untuk menghasilkan mutiara bulat baik kualitas maupun kuantitas sangat ditentukan oleh proses penanganan tiram sebelum operasi pemasangan inti, saat pelaksanaan operasi, pasca operasi dan ketrampilan dari teknisi serta sarana pembenihan tiram yang memadai.
Pada umumnya tiram mutiara yang akan dioperasi inti mutiara bundar berasal dari hasil penangkapan dialam yang dikumpulkan dari kolektor dan nelayan. Namun ukuran cangkang mutiara terdiri dari macam-macam ukuran yang nantinya disortir menurut ukuran besarnya mutiara, hal inilah yang menjadi penyebab sehingga tidak dapat melaksanakan operasi dalam jumlah yang banyak. Sedangkan hasil pembenihan dari hatchery dapat diperoleh ukuran yang relatif seragam ukurannya sehingga dapat dilakukan operasi pemasangan inti mutiara dalam jumlah yang banyak. Namun produksi benih belum dapat dikembangkan secara masal. Pemeliharaan spat tiram disesuaikan dengan kondisi perairan disekitarnya. Pemeliharaan benih (spat) yang masih kecil berukuran dibawah 5 cm dipelihara pada kedalaman 2-3 cm sedangkan spat dengan ukuran di atas 5 cm dipelihara pada kedalaman lebih dari 4 cm (Sutaman, 1993).
       
2.2.1. Penanganan Tiram Sebelum Operasi Pemasangan Inti Mutiara
Dengan demikian kalau kita tinjau mengenai terjadinya mutiara, untuk saat ini dapat dibagi menjadi dua yaitu:
·         Mutiara asli yang terdiri dari mutiara alam (natural pearl) dan mutiara pemeliharaan (cultured pearl).
·         Mutiara tiruan/imitasi (imitation pearl) (Dwiponggo, 1976).
Mutiara pemeliharaan
Sebelum proses penanganan tiram mutiara (Pinctada maxima) untuk pemasangan inti mutiara, harus dilakukan beberapa proses yaitu sebagai berikut:
a.       Seleksi bibit
Benih tiram mutiara dari hasil penyelaman (natural) maupun dari hasil pembenihan (breeding) diseleksi untuk mencari tiram yang telah siap untuk dioperasi pemasangan inti. Menurut Sutaman  (1993), bahwa benih siap operasi adalah tiram yang kondisinya sehat, tidak cacat, telah berumur 2-3 tahun jika benih itu di dapat dari usaha budidaya dan berukuran diatas 15 cm jika benih tersebut didapat dari hasil penangkapan. Benih tiram mutiara yang telah terkumpul dari hasil seleksi untuk dioperasi harus dipelihara dalam rakit pemeliharaan khusus supaya memudahkan dalam penanganan saat operasi akan berlangsung.

b.       Ovulasi buatan
Ovulasi buatan bertujuan agar pada saat operasi tiram mutiara tidak sedang dalam keadaan matang telur, karena tiram yang matang telur jaringan tubuhnya sangat peka terhadap rangsangan dari luar, sehingga inti yang di pasang akan dimuntahkan kembali. Ovulasi buatan ini merupakan kegiatan yang sengaja dilakukan untuk memaksa tiram mutiara agar mengeluarkan telur atau spermanya. Menurut Mulyanto (1987), bahwa cara ovulasi buatan yaitu dengan menaik turunkan keranjang pemeiharaan kedalam air dengan cepat sampai telur atau sperma keluar dari tiram.
Selain dari perlakuan menaik turunkan keranjang pemeliharaan tiram, kegiatan lain yang dilakukan yaitu masa pelemasan tiram (yukuesey) dimana tiram mutiara yang siap operasi di kurangi jatah pakannya dan membatasi ruang geraknya sehingga tiram menjadi lemah dan kepekaannnya menjadi berkurang pada saat inti dimasukkan (Mulyanto, 1987).
c.       Pembukaan cangkang
Setelah tiram mutiara diistrahatkan selama 1 hari setelah proses ovulasi buatan selanjutnya dlakukan proses pembukaan cangkang tiram mutiara. Dalam kegiatan ini ada 3 cara yang sering digunakan untuk memaksa tiram secara alami membuka cangkangnya yaitu dengan merendamnya dalam air dengan kepadatan yang tinggi, sirkulasi air dan cara yang terakhir yaitu pengeringan (Winanto, et. al. 1988).
Setelah cangkang terbuka akibat dari perlakuan ini, cangkang tersebut segera ditahan dengan forsep dan di pasang baji pada mulut tiram supaya cangkang selalu dalam keadaan terbuka. Selanjutnya 1 jam sebelum operasi, tiram-tiram tersebut diletakkan didalam dulang dengan bagian engsel atau dorsal disebelah bawah (Sutaman, 1993).
      
 2.2.2 Operasi Pemasangan Inti Mutiara Bulat
            Untuk menghasilkan mutiara pada tiram ada dua cara yang umum di lakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara yaitu:
a. Pemasangan inti mutiara bulat
b. pemasangan inti mutiara setengah bulat (blister).
Operasi pemasangan inti mutiara bulat merupakan bagian terpenting dalam menentukan keberhasilan pembuatan mutiara bulat. Ada beberapa cara yang perlu dilakukan dalam operasi pemasangan inti mutiara bulat adalah sebagai berikut:
1)      Sebelum pemasangan inti, tiram siap operasi di kumpulkan diatas meja operasi.
2)     Membuat potongan mantel dengan pengambilan mantel dari tiram donor dan mengguntingnya sekitar lebar 5 mm dan panjang 4 cm. kemudian mantel dipotong membentuk bujur sangkar dengan sisi-sisi 4 mm (Sutaman, 1993). Menurut Tun dan Winanto (1988), mantel yang diambil hendaknya dipilih tiram yang mudah dan aktif.
3)    Pemasangan inti mutiara bulat.
Dalam pemasangan inti perlu diperhatikan ukuran inti yang akan dipasang. Umumnya ukuran inti mutiara yang dimasukkan kedalam gonad tiram mutiara  jenis Pinctada maxima yaitu berkisar antara 3,03-9,09 mm (Mulyanto, 1987).
       
2.2.3. Penanganan Tiram Pasca Operasi
Menurut Mulyanto (1987), mengemukakan bahwa pemeliharaan tiram mutiara pasca operasi sangat menentukan penyembuhan dan pembentukan mutiara yang dihasilkan. Setelah tiram dioperasi, dengan cepat dan hati-hati dimasukkan kembali kedalam air dan digantung pada rakit pemeliharaan yang letaknya paling dekat rumah operasi dan pada tempat yang pergerakan airnya paling kecil. Tiram memerlukan waktu istrahat yang cukup 1-3 bulan untuk menyembuhkan luka shock akibat dari operasi pemasangan inti.
Setelah masa penyembuhan, dilakukan pemeriksaan terhadap tiram untuk mengetahui apakah inti yang telah dipasang masih dalam posisi semula atau dimuntahkan. Tiram yang akan diperiksa di tahan dengan baji lalu diletakkan pada shell holder dan diperiksa. Apabila inti masih berada didalam, maka bagian tersebut akan kelihatan sedikit menonjol (Winanto, et. al., 1988)
Pemeriksaan inti mutiara yang dilakukan oleh perusahan-perusahan yang berskala besar dilakukan dengan cara menggunakan alat rontgen. Pemeriksaan dengan alat ini dilakukan sekitar 45 hari setelah masa tento terakhir atau kurang lebih 3 bulan setelah pemasangan inti. Tiram yang masih terdapat inti didalam cangkangnya dalam posisi semula dipelihara kembali hingga waktu panen tiba. Tiram yang memuntahkan intinya dan kondisi tubuhnya masih baik dapat diulangi pemasangan inti mutiara bulat atau setengah bulat (blister) (Mulyanto, 1987).

2.2.4.  Panen
        Menurut Mulyanto (1987), bahwa setelah masa pemeliharaan 1,5-2 tahun sejak operasi pemasangan inti maka tiram dapat dipanen dengan kecermatan dan ketepatan yang benar agar hasil mutiara dapat berkualitas baik. Menurut Tun dan Winanto (1988), di Indonesia panen akan lebih baik menguntungkan apabila dilakukan pada saat musim hujan, karena untuk mengurangi mortalitas pada waktu pemasangan inti mutiara bulat kedua. Tekanan tinggi, suhu rendah dan relatif konstan serta suasana remang-remang dapat menyebabkan sel penghasil nacre lebih aktif mensekresikan nacre, sehingga kilau dan warnanya lebih baik walaupun pelapisan nacrenya berlangsung lebih lambat.
Cara pemanenan dapat dilakukan sebagai berikut : tiram yang sudah dipanen diletakkan di atas meja operasi. Kemudian bagian mantel dan insang yang menutupi gonad disisihkan  sehingga mutiara akan kelihatan dan tampak menonjol dengan sedikit bercahaya. Lalu dibuat sayatan pada organ tersebut seperti pada saat pemasangan inti itiara bulat, maka mutiara dengan mudah dapat dikeluarkan dari gonad tiram.

2.3. Teknik Produksi
Dalam kegiatan untuk memproduksi spat dapat dimulai jika semua sarana operasional telah tersedia, terutama pakan hidup dan induk. Hal ini yang perlu disiapkan lebih dahulu jauh hari sebelum pembangunan fisik dimulai. Kegiatan pembenihan ini diawali dengan kultur pakan hidup, dalam arti bahwa jumlah pakan yang dikulturkan harus cukup untuk pakan induk, larva, dan spat. Kegiatan selanjutnya adalah seleksi induk, pemijahan, pemeliharaan larva, pemeliharaan spat, dan pendederan.
        2.3.1. Seleksi induk
Dalam kegiatan seleksi induk tiram mutiara dapat dilakukan di atas rakit apung di laut atau di laboratorium. Induk-induk yang akan diseleksi dengan posisi berdiri atau bagian dorsal di bawah. Kemudian, biasanya induk akan membuka cangkang karena kekurangan oksigen. Proses pembukaan cangkang hendaknya jangan dipaksakan karena dapat menyebabkan cangkang pecah. Setelah cangkang terbuka sebagian , segera digunakan alat pembuka cangkang (shell opener) agar cangkang terbuka. Selanjutnya, pada cangkang segera dipasang baji dari kayu sebagai pangganjal agar cangkang tetap terbuka sebagian.
Untuk melihat posisi gonad, digunakan alat spatula. Dengan spatula, insang di sibakkan sehingga posisi gonad dapat terlihat dengan jelas dan secara visual tingkat kematangan dapat diketahui. Secara morfologi, tiram mutiara dewasa dan telah mencapai matang gonad penuh yaitu (fase IV) dapat diketahui, dengan kondisi gonad adalah seluruh permukaan organ bagian dalam tertutup oleh gonad, kecuali bagian kaki (Winanto et al., 2002).
Klasifikasi tiram mutiara yang memenuhi syarat untuk dijadikan induk berukuran antara 17-20 cm (DVM). Persyaratan yang paling penting adalah tingkat kematangan gonad. Induk yang berasal dari hatchery, khususnya induk jantan, ada kalanya berukuran 15 cm (DVM) sudah matang gonad penuh. Induk-induk yang sudah diseleksi atau sudah memenuhi syarat segera dibawa ke laboratorium untuk dipijahkan.
Pengelolaan induk di laboratorium dalam kondisi terkendali telah dilakukan oleh para ahli. Para ahli tersebut memelihara induk Pinctada maxima di laboratorium dilakukan di dalam bak fiberglass kapasitas 1 ton. Selama pemeliharaan digunakan sistem air mengalir dan diberi pakan tambahan  fitoplankton. Aplikasi pakan hidup diberikan dengan variasi komposisi Isocrysis galbana dan atau Pavlova luthri dengan Tetraselmis tetrathele atau Chaetoceros sp. dengan perbandingan 1:1. jumlah pakan yang diberikan antara 25.000- 30.000 sel/cc/hari.
        2.3.2. Pemijahan
Pemijahan tiram mutiara secara alami sering terjadi pada tiram yang telah dewasa. Dalam kondisi gonad matang penuh, tiram akan segera memijah jika terjadi perubahan lingkungan perairan walaupun sedikit. Kemungkinan lain adalah shock mekanik yang terjadi karena perlakuan kasar pada saat cangkang dibersihkan atau akibat perbedaan tekanan. Lalu dibawah ke tempat budidaya yang relatif dangkal sehingga memacu tiram untuk memijah.
Menurut Winanto (2004) rekayasa pemijahan perlu dilakukan jika secara alami tiram tidak mau memijah di dalam bak pemijahan. Ada dua metode yang digunakan dalam perlakuan pemijahan, yaitu metode manipulasi lingkungan dan metode rangsangan kimia.
a.       Metode manipulasi Lingkungan
Metode pertama manipulasi lingkungan yang biasa di gunakan dan resiko kegagalannya relatif kecil adalah metode kejut suhu (thermal shock), fluktuasi suhu, dan ekspose. Metode kejut suhu dilakukan dengan cara, jika suhu air di tempat pemijahan mulanya sekitar 28­ºC di tinggikan menjadi 35ºC, ini di naikkan secara bertahap dengan bantuan alat pemanas (heater). Induk-induk akan memijah setelah 60-90 menit dari perlakuan. Biasanya yang lebih dulu memijah adalah induk jantan dan di susul oleh induk betina. Sperma yang keluar seperti asap berwarna putih.
Metode yang ke dua adalah fluktuasi suhu, jika suhu awal tempat pemijahan sekitar  28­ºC di tinggikan menjadi 33-45­ºC . jika induk belum memijah setelah 60-90 menit maka suhu di turunkan kembali ke suhu awal, perlakuan ini di lakukan terus-menerus sampai induk memijah.
Metode yang ketiga yaitu metode ekspose juga sering di lakukan dan ada kalanya di kombinasikan dengan metode kejut suhu. Induk di letakkan di tempat teduh, lalu di biarkan selama 30-45 menit, pada kondisi tertentu, misalnya induk belum mencapai fase matang gonad (fase III) maka perlu di lakukan ekspose lebih lama, bisa mencapai 1-2 jam. Setelah masa ekspose, induk di kembalikan lagi ke tempat bak pemijahan. Pada kasus ini bisa di kombinasi antara metode ekspose dengan metode kejut suhu atau fluktuasi suhu.
b.       Rangsangan kimia
Dalam pemijahan dengan menggunakan bahan kimia juga sering di lakukan, tetapi hasil pembuahan (fertilisasi) biasannya kurang baik. Seperti halnya manipulasi lingkungan, dengan bahan kimia juga bertujuan untuk merubah lingkungan mikro tempat pemijahan. Secara ekstrim bahan kimia dapat dengan segera merubah lingkungan pH air menjadi asam atau basa, yamg bertujuan memberikan shock fisiologis pada induk sehingga terpaksa mengeluarkan sel-sel gonadnya (Winanto, 2004). Jenis bahan kimia yang umum di gunakan antara lain hydrogen peroksida (H2O2), natrium hidroksida (NaOH), ammonium hidroksida (NH4OH), amoniak (NH4), dan larutan tris (trace buffer).
Tabel 2. Perkembangan Pinctada maxima setelah telur di buahi.
Waktu setelah
Pembuahan
Temperature air (ºC)
Perkembangan
15 menit
28
Penonjolan polar body I
25 menit
28
Penonjolan polar body II
40 menit
9
Penonjolan polar lobe I, permulaan cleavage
45 menit
30
Stage 2 sel
1 jam
30
Stage 4 sel
1½ jam-3 jam
28-30
Stage 8 sel
2½ jam-3½ jam
27-30
Stage morula
3½ jam-4 jam
27-31
Blastula mulai megadakan rotasi
            permulaan gastrula5½ jam28-30Perkembangan flagelata apical7½ jam28-30Kulit tiram hampir menutupi tubuh18½ jam-19 jam26-30 (D shape)


2.4. Manajemen Pakan
Kultur Phytoplankton
Pakan alami untuk tiram mutiara yaitu jenis-jenis flagelata berukuran ≤ 10 µ. Beberapa jenis mikroalga yang umum di berikan untuk larva tiram mutiara yaitu : Isocrysis galbana, Pavlova lutheri, Chaetocheros. Sp, Nannoclorophysis. Sp, dan Tetraselmis chuii.
Pemeliharaan pakan alami ini dilakukan secara bertahap, hal ini untuk menjaga kualitas, kuantitas serta kemurnian pakan alami tersebut. Yang dilakukan dengan menggunakan media agar, setelah terbentuk koloni baru dipindahkan  ke dalam tabung reaksi. Secara bertahap, koleksi, isolasi dan perbanyakan meliputi kultur murni, semi masal dan masal (Winanto, 2004). Air laut yang digunakan sebagai media pemeliharaan harus melewati saringan ukuran mikro dan saringan kapas, selanjutnya disterilisasi dengan Autoclav. Komposisi pupuk yang di gunakan adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Komposisi pupuk untuk kultur plankton.
No
Jenis pupuk
Dosis (conway)
Dosis (guillard)
1
EDTA
45 gram
10 gram
2
NaH2­­­PO42H2O
20 gram
10 gram
3
FeCI36H2O
1,5 gram
2,9 gram
4
H3BO3
33,6 gram
3,6 gram
5
MnCI2
0,36 gram
-
6
NaNO3
100 gram
3,6 gram
7
Na2SiO39H2O
-
100 gram
8
Trace Matel Solution
1 ml
5 gram/30 ml
9
Vitamin
1 ml
1 ml
10
Aquades sampar
1000 ml
1000 ml
                                                                                      Sumber : Ditjenkan, 2002
Makanan utama larva tiram mutiara adalah jenis alga Isocrysis galbana dan Monocrysis lutheri, sehingga pakan ini perlu disiapkan sebagai makanan awal dari larva dan harus dilakukan tiga hari sebelum larva menetas.
        1. Kultur murni
Kultur murni pada skala laboratorium dapat menggunakan pupuk atau media Guillard Conway. Pemeliharaan plankton pada skala laboratorium dilakukan secara bertahap. Hal ini untuk menjaga kemurnian dan kualitas stok. Untuk kultur murni dapat digunakan cawan Petri dengan media agar. Setelah berbentuk koloni, diamati dengan mikroskop untuk mengetahui apakah terjadi kontaminsi dengan jenis lain atau tidak. Jika masih terkontaminasi maka harus dilakukan pemurnian ulang sehingga didapatkan koloni satu spesies atau jenis Phytoplankton yang diinginkan selanjutnya, dilakukan pemindahan untuk di ukur dalam tabung reaksi dengan menggunakan tabung reaksi Ose.
Inokulum di dalam tabung reaksi dapat diperbanyak secara bertahap sampai mencapai pertumbuhan puncak (blooming). Mulai dipelihara 100 cc, kemudian diperbanyak lagi ke 200 cc, 300 cc, 500 cc dan 1000 cc. Lama pemeliharaan tergantung pada jenis dan tingkat kepadatan inokulum. Jika tujuan kultur untuk stok dan mempertahankan kemurnian, dapat dilakukan kultur tanpa pengudaraan selama 2-3 bulan untuk menghindari kemungkinan terjadinya kontaminasi. Pada skala laboratorium jenis Isocrysis galbanai dan Pavlova lutheri  dapat dipelihara 5-10 hari dan Chaetoseros sp dapat dipelihara selama 5-12 hari.Pemeliharaan berikut masih dalam skala laboratorium pada volume 3-5 liter dengan waktu pemeliharaan 5-7 hari untuk Isocrysis galbana 4-6 hari untuk Chaetoceros sedangkan untuk Pavlova lutheri sama dengan Isocrysis galbana. Kultur skala laboratorium ini dimaksudkan untuk menyediakan inokulum untuk pembenihan skala semi-masal atau skala 30-80 liter.
        2. Kultur semi masal
Pada prinsipnya kultur semi masal dan masal sama dengan kultur dalam skala laboratorium, hanya volumenya lebih besar. Untuk kultur semi masal dan masal, air laut yang digunakan cukup disaring dengan kantong saringan 60-80 mikron. Setelah media air laut disiapkan pupuk dimasukan kemudian diaduk secara merata atau diberi pengudaraan. Setelah itu, bibit dimasukan ke dalam media.
Untuk jenis Isocrysis galbana dan Pavlova luthery yang dipelihara dalam skala laboratorium dan semi masal akan capai kepadatan optimum setelah 4-6 hari. Kepadatan plankto yang baik diberikan sebagai pakan, biasanya pada fase pertumbuhan optimum, awal fase pertumbuhan tetap, atau setelah mencapai kepadatan optimum. Untuk mengetahui setiap fase pertumbuhan tersebut perlu dilakukan pengamatan setiap hari, caranya dengan pengambilan sample dan dapat dihitung kepadatannya dengan menggunakan haemocytometer.
Berikut ini adalah kepadatan optimum beberapa jenis plankton :
a.  Isocrysis galbana                : 9-10 juta sel/cc
b. Pavlova lutheri                   : 11-2 juta sel/cc
c.  Tetraselmis tetrathele         : 5-8 juta sel/cc
d. Chaetoceros sp.                  : 4-6 juta sel/cc
Bila kebutuhan pakan alami dalam jumlah besar maka dapat dilakukan kultur skala masal, misalnya dengan volume pemeliharaan 1-5 ton. Pada kultur skala masal, kepadatan maksimum akan dicapai setelah 5-7 hari.Menurut Isnasetyo dan Kurniastuti (1995), pemanenan phytoplankton harus dilakukan setelah pada saat puncak populasi, sisa zat hara masih cukup besar sehingga dapat membahayakan organisme pemangsa karena pemberian phytoplankton pada bak pemeliharaan larva. Apabila pemanenan terlambat maka telah banyak terjadi kematian phytoplankton sehingga kualitasnya menurun.
Pemanenan phytoplankton dapat dilakukan 3 cara yaitu sebagai berkut :
  1. Penyaringan dengan plankton net.
  2. Pemanenan dengan memindahkan langsung bersama media kultur.
  3. Cara pengendapan menggunakan bahan kimia, seperti : Sodium hidroksida dan NaOH
        3. Penyimpanan bibit murni
Guna untuk kesinambungan kultur phytoplankton maka perlu dilakukan pemeliharaan stok bibit murni. Martosudarno dan wulan (1990) berpendapat bahwa untuk menyimpan bibit phytoplankton lebih lama, dapat disimpan dalam kulkas (< 10­­º C) dengan syarat diperiksa setiap minggu atau bulan untuk menjaga mutu phytoplankton tersebut. Kultur tidak perlu diberi aerasi karena hanya menjadi sumber kontaminasi.
Kultur phytoplankton dapat di pelihara dengan beberapa cara sebagai berikut
  1. Disimpan dalam media agar pada cawan Petri.
  2. Disimpan pada media agar miring pada tabung reaksi.
  3. Disimpan dalam media cair pada tabung reaksi.
  4. Disimpan dalam media cair pada Erlenmeyer.
Penyimpanan stok bibit murni dalam media agar dapat bertahan sampai 6 bulan. Penyimpanan stok murni dalam media cair dilakukan dalam tabung reaksi volume 10 ml, diberi pupuk dan tanpa aerasi tetapi harus dilakukan pengocokan setiap hari. Biakan stok murni ini diletakkan pada rak kulkas dengan pencahayaan lampu TL. Penyimpanan stok murni dalam kulkas dapat bertahan selama 1 bulan dan sebiknya segra digunakan dan diganti dengan stok baru.Kendala yang umum ditemukan dalam kultur phytoplankton adalah kontaminasi oleh mikroorganisme lain seperti : Protozoa, bakteri, dan jenis phytoplankton lainnya. Kontaminasi ini dapat bersumber dari medium (air laut, pupuk, udara atau aerasi, wadah kultur serta inokulum)

2.5.  Manajemen Kesehatan /Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit dapat menyebabkan proses budidaya menjadi gagal, pertumbuhan tiram dapat terganggu bahkan dapat mematikan tiram, untuk itu perlu dilakukan pengendalian. Hama umumnya menyerang bagian cangkang. Hama tersebut berupa jenis teritip, racing, dan polichaeta yang mampu mengebor cangkang tiram. Hama yang lain berupa hewan predator, seperti gurita, bintang laut, rajungan, kerang hijau, teritip, golongan rumpu laut dan ikan sidat.
Upaya pencegahan dengan cara membersihkan hama-hama tersebut dengan manual pada periode waktu tertentu. Penyakit tiram mutiara umumnya disebabkan parasit, bakteri, dan virus. Parasit yang sering ditemukan adalah Haplosporidium nelsoni. Bakteri yang sering menjadi masalah antara lain Pseudomonas enalia, Vibrio anguillarum, dan Achromobacter sp. Sementara itu, jenis virus yang biasanya menginfeksi tiram mutiara adalah virus herpes. Upaya untuk mengurangi serangan penyakit pada tiram mutiara antara lain
a) Selalu memonitor salinitas agar dalam kisaran yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan tiram,
b) Menjaga agar fluktuasi suhu air tidak terlalu tinggi, seperti pemeliharaan tiram tidak terlalu dekat kepermukaan air pada musim dingin,
c) Lokasi bodi daya dipilih dengan kecerahan yang cukup bagus, dan
d) Tidak memilih lokasi pada perairan dengan dasar pasir berlumpur.

2.6.  Manajemen Kualitas Air 
    1. Faktor Ekologi
Beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram, diantaranya kualitas air, pakan, dan kondisi fisiologis organisme. Batasan faktor ekologi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi lokasi budidaya adalah :
a.       Lokasi
Lokasi usaha untuk budidaya tiram mutiara ini berada di perairan laut yang tenang. Pemilihan lokasi pembenihan maupun budidaya berada dekat pantai dan terlindung dari pengaruh angin musim dan tidak terdapat gelombang besar. Lokasi dengan arus tenang dan gelombang kecil dibutuhkan untuk menghindari kekeruhan air dan stress fisiologis yang akan mengganggu kerang mutiara, terutama induk.
b.       Dasar
Dasar perairan sebaiknya dipilih yang berkarang dan berpasir. Lokasi yang terdapat pecahan-pecahan karang juga merupakan alternatif tempat yang sesuai untuk melakukan budidaya tiram mutiara.
c.      Arus                                                                                               
Arus tenang merupakan tempat yang paling baik, hal ini bertujuan untuk menghindari teraduknya pasir perairan yang masuk ke dalam tiram dan mengganggu kualitas mutiara yang dihasilkan. Pasang surut air juga perlu diperhatikan karena pasang surut air laut dapat menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari kemungkinan adanya limbah dan pencemaran lain.
d.      Salinitas
Dilihat dari habitatnya, tiram mutiara lebih menyukai hidup pada salinitas yang tinggi. Tiram mutiara dapat hidup pada salinitas 24 ppt dan 50 ppt untuk jangka waktu yang pendek, yaitu 2-3 hari. Pemilihan lokasi sebaiknya di perairan yang memiliki salinitas antara 32-35 ppt. Kondisi ini baik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup tiram mutiara.
e.       Suhu
Perubahan suhu memegang peranan penting dalam aktivitas biofisiologi tiram di dalam air. Suhu yang baik untuk kelangsungan hidup tiram mutiara adalah berkisar 25-30 0C. Suhu air pada kisaran 27 – 31 0C juga dianggap layak untuk tiram mutiara.
f.        Kecerahan
Kecerahan air akan berpengaruh pada fungsi dan struktur invertebrata dalam air. Lama penyinaran akan berpengaruh pada proses pembukaan dan penutupan cangkang (Winanto, et. al. 1988). Cangkang tiram akan terbuka sedikit apabila ada cahaya dan terbuka lebar apabila keadaan gelap. Menurut Sutaman (1993), untuk pemeliharaan tiram mutiara sebaiknya kecerahan air antara 4,5-6,5 meter. Jika kisaran melebihi batas tersebut, maka proses pemeliharaan akan sulit dilakukan. Untuk kenyamanan, induk tiram harus dipelihara di kedalaman melebihi tingkat kecerahan yang ada.
g.       pH
Derajat keasaman air yang layak untuk kehidupan tiram pinctada maxima berkisar antara 7,8- 8,6 pH agar tiram mutiara dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pada prinsipnya, habitat tiram mutiara di perairan adalah dengan pH lebih tinggi dari 6,75. Tiram tidak akan dapat berproduksi lagi apabila pH melebihi 9,00. Aktivitas tiram akan meningkat pada pH 6,75 – pH 7,00 dan menurun pada pH 4,0-6,5.
h.       Oksigen
Oksigen terlarut dapat menjadi faktor pembatas kelangsungan hidup dan perkembangannya. Tiram mutiara akan dapat hidup baik pada perairan dengan kandungan oksigen terlarut berkisar 5,2-6,6 ppm. Pinctada maxima untuk ukuran 40-50 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1,339 l/l, ukuran 50 – 60 mm mengkonsumsi oksigen sebanyak 1,650 l/l, untuk ukuran 60 – 70 mm mengkonsumsi sebanyak 1,810 l/l.
i.         Parameter lain
1) Fosfat Kandungan fosfat yang lebih tinggi dari batas toleransi akan mengakibatkan tiram mutiara mengalami hambatan pertumbuhan. Fosfat pada kisaran 0,1001-0,1615 g/l merupakan batasan yang layak untuk normalitas hidup dan pertumbuhan organisme budidaya. Lokasi budidaya dengan fosfat berkisar antara 0,16-0,27 g/l merupakan kandungan fosfat yang baik untuk budidaya mutiara.
2)    Nitrat Kisaran nitrat yang layak untuk organisme yang dibudidayakan sekitar 0,2525-0,6645 mg/l dan nitrit sekitar 0,5-5 mg/l. Konsentrasi nitrit 0,25 mg/l dapat mengakibatkan stres dan bahkan kematian pada organisme yang dipelihara.
3)    Amoniak Batas toleransi organisma akuatik terhadap amoniak berkisar antara 0,4-3,1 g/l. Pada kisaran yang lebih tinggi dari angka tersebut dapat mengakibatkan gangguan pernafasan dan akhirnya mengakibatkan kematian pada organisme. Pemilihan lokasi juga harus terhindar dari polusi dan pencemaran air, misalnya pencemaran yang berasal dari limbah rumah tangga, limbah pertanian, dan limbah industri. Pencemaran air akan mengakibatkan kematian, baik spat maupun induk tiram mutiara. Selain itu kegiatan mulai dari pembenihan sampai dengan budidaya induk tiram dapat dipilih lokasi di sekitar pantai yang berdekatan dengan lokasi tempat tinggal pengelola usaha budidaya. Hal ini untuk kemudahan dalam pengangkutan dan pemindahan induk tiram mutiara, sehingga mengurangi risiko kerugian akibat kematian.










BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
- metode pembuatan sarana budidaya tiram mutiara dengan metode rakit apung dan  tali rentang
            -teknik produksi dengan seleksi induk dan pemijahan
            - kultur pakan tiram mutiara adalah kultur murni dan kultur semi massal
            - hama menyerang cangkang tiram dengan kemampuan mengebor cangkangnya

3.2. Saran
            - tiram mutiara baik untuk di budidayakan untuk berbagai kalangan
            - dalam budidaya tiram mutiara, harus ekstra hati-hati dan memperhatikan faktor penghambat serta hama yang telah di bahas dalam makalah ini.
           







                                                                                                                                     






No comments:

Post a Comment

Give your comments and critics here :)