Monday, 27 March 2017

Hujan tak sejukkan

Saat ini diluar sana sedang berjatuhan reruntuhan dari langit. Setiap bulir-bulir yang mencoba sejukkan hati. Tapi mengapa? Tak ada rasa sejuk yang terasa, hanya kesunyian. Namun sungguh ku tak pernah bosan mendengar suara denting-dentingnya yang indah. Denting-denting yang seolah mengiringi tarian imajinasi yang kian meliar.

Mengapa selalu hujan? Karena aku tak pernah bosan. Sama seperti aku yang tak pernah bosan memandangimu, seperti itulah aku tak pernah bosan memandang hujan. Sama seperti aku yang tak pernah bosan mendengar suaramu, seperti itulah aku selalu tenang mendengar suara denting hujan. Dan bagiku, kaupun selalu datangkan bahagia seperti hujan yang datangkan pelangi.

Kau tahu? Hujan malam ini tak menyejukkanku. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa seolah dia tak ingin bertutur denganku. Dia hanya berjatuhan seperti itu saja, tanpa peduli apa yang kurasakan. Tidak seperti biasanya, ia selalu menyapaku dan menyesuaikan alunan dentingnya dengan suasana hatiku.
Dan kau tahu? Begitulah aku merasakan hadirmu. Meskipun dapat kurasakan hadirmu didekatku, tapi itu sama sekali tak berarti saat aku bahkan tak berani menatap matamu.

Kau tahu, kasih? Seperti petir yang tiba-tiba hadir ditengah sejuknya hujan, seperti itulah hatiku yang tiba-tiba runtuh saat kau tak ingin bertutur denganku. Aku tak pernah ingin reruntuhan itu terus bertambah sehingga ku selalu membangunnya agar utuh kembali.

Kau tahu, kasih? Aku tak pernah lupa menyebut namamu saat bertutur denganNya. Di benakku tak pernah sedikitpun terbesit akan jalani hari tanpamu. Bahkan ku ingin kau yang selalu hadir dalam setiap imajinasi terliarku.

Dengar aku, kasih. kumohon mengertilah aku adalah seseorang yang selalu menunggumu. Aku adalah seseorang yang tak pernah dengan sengaja ingin menggoreskan luka dihatimu. Aku adalah orang asing yang tiba-tiba hadir dihidupmu dan berharap akan mewujudkan satu persatu imajinasiku. Aku, adalah orang yang selalu berharap apa yang kita harapkan akan benar-benar terjadi.

-LC21-

Saturday, 14 January 2017

Tentang Kau dan Hujan

Ada sebuah rasa di telaganya yang sulit didefinisikan, ingin sekali diungkapkan namun tak pernah sanggup terucap. Lidah seketika kaku, dan jari seketika membeku saat diharapkan bisa menjadi perantara rasa itu.

Kau tahu? sama seperti tanah yang selalu merindukan hujan, seperti itulah aku yang selalu merindumu.

Kau tahu mengapa aku selalu setia pada hujan dalam setiap syairku? Karena hujan tak penah jera terjatuh hanya untuk bertemu tanah. Pun dia tak pernah merasa sakit untuk kita bisa nikmati indahnya pelangi.

Dan, kau tahu mengapa aku mencintai hujan? Karena hujan membuatku tersadar, walau sering dikutuk, dia tetap selalu menyejukkan. Dan yang harus kau tahu, akan lebih menyejukkan bila ada didekatmu.

Aku memang bukan ahli dalam merangkai aksara. Tapi setidaknya kali ini aku ingin membiarkan setitik cahaya di telaga kalbuku, menyeberang ke telaga kalbumu untuk saling berbicara tentang apa yang masing-masing rasakan.

Kumohon dengarkanlah, tak mudah menjaga rerintik hujan itu agar tetap diperaduannya. Bahkan setiap rintiknya, penuh dengan semua hal tentangmu. Kau tahu? Aku selalu bertutur pada-Nya agar selalu bisa merasakan kesejukan setiap bersamamu.

-LC21-

Tuesday, 8 November 2016

Dibalik Rangkaian Aksara

Dibalik Rangkaian Aksara
Oleh : Deta Oktariani

Bukan satu atau dua kali
Rerintik kristal itu jatuh
Dan lenyap bersama halusnya usapan jemari
Dibalik rangkaian aksara yang telah tertata
Hilangkan gejolak yang sebenarnya

Kutahu itu, pancaran mata yang tak bisa pungkiri
Sesuatu yang sama dari dua telaga hati
Milikmu, juga milikku
Ah, Untuk apa?
Bagiku, hal tentangmu lebih penting dari itu semua

Aku tak kuasa menerawang pikiranmu
Hingga saat kristal itu jatuh karenamu
Pernahkah kau pahami?
Ah sudahlah, biarkan denting-denting waktu sampaikan
Nanti, saat ku tak lagi mahir merangkai aksara




Bengkulu, 25 Januari 2015