Tuesday, 8 November 2016

Dibalik Rangkaian Aksara

Dibalik Rangkaian Aksara
Oleh : Deta Oktariani

Bukan satu atau dua kali
Rerintik kristal itu jatuh
Dan lenyap bersama halusnya usapan jemari
Dibalik rangkaian aksara yang telah tertata
Hilangkan gejolak yang sebenarnya

Kutahu itu, pancaran mata yang tak bisa pungkiri
Sesuatu yang sama dari dua telaga hati
Milikmu, juga milikku
Ah, Untuk apa?
Bagiku, hal tentangmu lebih penting dari itu semua

Aku tak kuasa menerawang pikiranmu
Hingga saat kristal itu jatuh karenamu
Pernahkah kau pahami?
Ah sudahlah, biarkan denting-denting waktu sampaikan
Nanti, saat ku tak lagi mahir merangkai aksara




Bengkulu, 25 Januari 2015

Surat Untuk Pemimpin Bangsa

Yang Terhormat,
Pemimpin Bangsa Indonesia
di Tempat

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
            Salam untuk bapak yang telah memimpin negeri ini. Semoga keselamatan, kesehatan, dan berkah selalu mengiringi bapak agar senantiasa memimpin bangsa ini dengan setulus hati.
            Pemimpin bangsa kami hormati, saya hanyalah segelintir dari serpihan negeri yang berusaha mewakili aspirasi dari rakyat Indonesia. Tentu semua rakyat Indonesia menginginkan hal yang sama seperti saya yaitu mencapai cita cita negara “melindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” sesuai dengan teks pembukaan UUD 1945. Tetapi sepertinya belum satupun yang tercapai seutuhnya. Kemerdekaan tahun 1945 merupakan jembatan emas bagi rakyat Indonesia. Tapi apakah hanya sebatas itu? Saya sering sekali mendengar kalimat “mau bagaimanapun, ya beginilah negara ini. Tidak akan pernah maju.” Pak, saya sebagai seorang mahasiswi hanya mampu menyampaikan ini semua kepada yang lebih punya kuasa daripada saya. Saya sangat berharap pernyataan-pernyataan itu dapat dipatahkan secepatnya.
            Pemimpin negeri yang kami hormati, saya seringkali mengamati tentang keadaan negara kita. Sepertinya tindak hukum di negara ini sangat tegas. Ya, sangat tegas terhadap kaum lemah, rakyat kecil. Tetapi ketegasan itu sirna ketika yang dihadapi adalah seorang petinggi negara, ataupun seorang lain yang mempunyai kekuasaan. Bukankah seharusnya setiap rakyat Indonesia memiliki kedudukan yang sama dimata hukum? Tetapi sepertinya, yang kami pelajari dibangku sekolah selama ini hanyalah sebatas sebuah teori. Saat mereka yang berkuasa sedang dalam proses hukum, tindak hukum seketika lemah. Kasus tak diusut tegas bahkan rata-rata hilang seiring berjalannya waktu. Malah yang saya lihat, media lebih gesit mencari titik terang dari permasalahan dibandingkan penegak hukum sendiri. Sayangnya, media saat ini sudah tak lagi jernih. Sudah ikut bermain dengan politik. Mirisnya lagi, penegak hukum itu sendiri terlibat dalam kasus-kasus yang terjadi.
            Pemimpin yang bijaksana, faktor penentu utama itu semua adalah sumber daya manusia di Indonesia ini sendiri. Indonesia merupakan salah satu negara dengan penduduk terbanyak. Dengan penduduk yang begitu banyak dan dengan keragaman penduduk di Indonesia, sepantasnyalah bisa dimanfaatkan untuk memajukan negeri ini. Jika minimal 70% sumber daya manusia memiliki kualitas yang tinggi, tentulah negara ini akan maju. Tapi sayangnya, untuk mencapai angka tersebut sangat sulit di Indonesia. Jangankan untuk menempa SDM agar memiliki skill khusus, yang sudah memiliki skill saja tak dihargai di Indonesia. Negara lain malah lebih mengapresiasi prestasi anak bangsa dibandingkan negara ini sendiri. Akhirnya, prestasi tersebut dimanfaatkan negara lain atas nama negara mereka. Anak-anak yang putus sekolah karena kurangnya biaya, tak bisa melakukan apa-apa kecuali mengikuti alur hidupnya sendiri.
            Pemimpin negeri yang selalu kami hormati, pertanyaan dan pernyataan yang tampak berkelit tersebut telah menoreh tanya besar didalam benak kami, warga Indonesia. Kami sangat berharap bapak bersedia untuk memperbaiki penjalanan sistem yang sudah tersusun rapi di Indonesia. Kami berharap petinggi yang di kursi mewah sana, tidak menyalahgunakan kursi istimewa tersebut untuk menyengsarakan bangsa ini.
            Terakhir, saya mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penyampaian saya disurat ini. Saya harap, aspirasi kami ini dapat dipertimbangkan untuk Indonesia yang lebih maju. Atas perhatian bapak saya ucapkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum waramatullahiwabarakatuh


Hormat saya,


Rakyat kecil Indonesia

Sunday, 17 April 2016

Sajak Hujan

Ada suatu waktu ketika hujan pun tak dapat sejukkan hati. Saat gemuruh datang kian menjadi, mengalahkan sejuknya hujan yang terasa. Bulir bulir hujan tak selalu sisakan pelangi, tapi selalu perindah sunyi. Kau tahu? Seperti itulah aku mengharapkanmu. Sesetia setiap bulir hujan yang memberi kehidupan, sesetia itulah aku menantimu. Seindah irama denting hujan yang turun, seindah itulah aku menyebut namamu disetiap lima waktuku. Anggap saja gemuruh yang datang, adalah saat ku khawatir akan kehilanganmu.

-LC-