Showing posts with label puisi. Show all posts

Partikel Terkecil Bahagia

Halo, hujan
Terimakasih telah datang lagi
Terimakasih telah setia mengiringi sendu malam ini

Dalam keheningan ini, setiap rintikmu hadirkan tanya
Mengapa langit bisa lebih ceria setelah kelam karena hadirmu?
Apa karena langit sudah puas memaki?

Setiap denting yang berbunyi seolah wakili rasa
Jauh didalam sana, kudengar dia berteriak
Dia ingin memaki agar bisa seperti langit
Namun dia lebih menyukaimu, hujan
Dia lebih suka untuk berbaur denganmu
Memerintahkan semua komponennya untuk menyerupaimu
Mengharapkan ketenangan yang biasanya kau berikan

Dia begitu rapuh
Tapi dia tau, yang terkadang buatnya rapuh adalah juga sumber energinya
Dia juga sadar, tak semua mau mengikuti skenarionya

Lihatlah dia
Tersedu sendiri tanpa suara
Berkata pun dia tak bisa

Lihatlah dia
Tanpa jeda memikirkannya
Setiap asa ingin diraih bersamanya
Bahkan saat berdialog dengan-Nya tak pernah terlupa

Lalu, bagaimana?
Bukankah luka adalah partikel terkecil dari bahagia?

Molekul Hujan

Malam ini, molekul-molekul hujan seakan menusuk raga
Pun menyelinap ke kalbu
Sama seperti dingin yang tersisa dari molekul hujan
Seperti itulah pedih yang tersisa
Walau tak tampak, tapi sangat terasa

Kau tahu, hujan?
Lama ku tak menyapamu.
Selama itulah kurasa bahagia
Kau tau? Merasa bahagia sama seperti terlihat bahagia
Jika terlihat bahagia adalah masalah hati dan pandangan orang lain
Merasa bahagia adalah antara pikiran dan hati

Apa kau tahu?
Seringkali kau mengiringi rerintik diwajahku
Terkadang kurasa sesak, seolah ku berteriak tanpa suara
Sama seperti malam ini, bersama hembusan angin malam yang dingin
Hati ini terasa membeku


Banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan tapi tak bisa
Ada rasa yang ingin kusampaikan tapi seketika lidahku kaku

Kau tahu, hujan?
Aku hanya tak suka diabaikan
Aku hanya tak suka jika aku terlalu membuatmu sebagai prioritasku, tapi kau malah tak peduli
Aku hanya tak suka saat aku ingin memakimu, tapi aku tak pernah mampu

Kau tahu?
Kurasa hanya aku yang merasa semua berjalan sesuai dengan yang kupikirkan
Lihatlah
Saat inipun aku masih menunggu kau turun kembali.


Hai, Sunyi

hai sunyi
kau yang selalu ajarkanku untuk tenang
kau yang selalu buatku bisa sejenak berpikir
tapi kau juga yang buatku terkadang tak bisa lagi memikirkan apapun

hai sunyi
dulu kupikir dengan bertutur denganmu, setidaknya hatiku sedikit tenang
dan ya, itu terjadi untuk beberapa ratus detik saja

Kau tau?
Dulu dari tengah keramaian ku malah mencarimu
mungkin sekarang ku merindukan keramaian
mereka yang selalu ada menyaksikan rerintik yang jatuh saatku rapuh

Atau ku malah membutuhkan tempat yang lebih nyaman untukmu?
Menikmatimu sendiri?
Atau bersama seseorang yang biasa kuajak bertutur denganmu?

Hai Sunyi
Akhir" ini kau benar" tidak membantu
Kau malah buatku semakin rapuh
Terkadang, ku seakan sangat terluka
Beberapa hal seperti menusuk tepat di telaganya
Bahkan hal yang mungkin sebenarnya tidak terjadi

Apa menurutmu aku terlalu khawatir?
Kau tahu bukan, aku memang selalu khawatir, bahkan pada hal terkecil sekalipun
Tapi kali ini -- juga beberapa waktu lalu, terasa sangat perih
Semuanya hanya bisa tersimpan disana
Tanpa bisa mengatakan apapun

Aksara tak terarah

Malam ini disela gundahku
Ku sempatkan jemariku tuk tuliskan rangkaian aksara
Yang kutahu tak berarah
Tapi sedikit tenangkan jiwa

Malam ini, kutahu hujan tak bersamaku
Dia tak turun 'tuk sejukkanku
Dia juga tak kirimkan suara rerintiknya 'tuk tenangkanku
Kau tahu? Aku merindukanmu
Merindukan suaramu, merindukan ketenangan yang kau ciptakan

Malam ini, bulir-bulir itu turun dari peraduannya yang lain
Tak dapat terbendung lagi
Bersama turunnya bulir-bulir itu, ada rasa yang sulit diutarakan
Rasa yang sama, seperti sebelumnya
Rasa yang sama, seperti yang kau ketahui, tentunya

Kau tahu? 
Saat kucoba untuk tak memikirkanmu
Yang terjadi adalah aku semakin memikirkanmu
Daya khayalku pun semakin tinggi saat itu
Kau tahu?
Aku terlalu terbiasa denganmu
Setiap aktivitasku secara tak sengaja, selalu kukaitkan dengan dirimu
Setiap ceritaku, selalu terselip namamu
Bahkan menyebut namamu dalam setiap tuturku kepada-Nya bahkan sudah menjadi rutinitasku

Malam ini, bahkan semilir angin tak menyapaku
Hanya sunyi yang setia bersamaku saat ini
Tapi kau harusnya tahu
Aku tak pernah benar-benar merasa sunyi
Saatku memikirkanmu

-LC21-

Hujan tak sejukkan

Saat ini diluar sana sedang berjatuhan reruntuhan dari langit. Setiap bulir-bulir yang mencoba sejukkan hati. Tapi mengapa? Tak ada rasa sejuk yang terasa, hanya kesunyian. Namun sungguh ku tak pernah bosan mendengar suara denting-dentingnya yang indah. Denting-denting yang seolah mengiringi tarian imajinasi yang kian meliar.

Mengapa selalu hujan? Karena aku tak pernah bosan. Sama seperti aku yang tak pernah bosan memandangimu, seperti itulah aku tak pernah bosan memandang hujan. Sama seperti aku yang tak pernah bosan mendengar suaramu, seperti itulah aku selalu tenang mendengar suara denting hujan. Dan bagiku, kaupun selalu datangkan bahagia seperti hujan yang datangkan pelangi.

Kau tahu? Hujan malam ini tak menyejukkanku. Kau tahu kenapa? Karena aku merasa seolah dia tak ingin bertutur denganku. Dia hanya berjatuhan seperti itu saja, tanpa peduli apa yang kurasakan. Tidak seperti biasanya, ia selalu menyapaku dan menyesuaikan alunan dentingnya dengan suasana hatiku.
Dan kau tahu? Begitulah aku merasakan hadirmu. Meskipun dapat kurasakan hadirmu didekatku, tapi itu sama sekali tak berarti saat aku bahkan tak berani menatap matamu.

Kau tahu, kasih? Seperti petir yang tiba-tiba hadir ditengah sejuknya hujan, seperti itulah hatiku yang tiba-tiba runtuh saat kau tak ingin bertutur denganku. Aku tak pernah ingin reruntuhan itu terus bertambah sehingga ku selalu membangunnya agar utuh kembali.

Kau tahu, kasih? Aku tak pernah lupa menyebut namamu saat bertutur denganNya. Di benakku tak pernah sedikitpun terbesit akan jalani hari tanpamu. Bahkan ku ingin kau yang selalu hadir dalam setiap imajinasi terliarku.

Dengar aku, kasih. kumohon mengertilah aku adalah seseorang yang selalu menunggumu. Aku adalah seseorang yang tak pernah dengan sengaja ingin menggoreskan luka dihatimu. Aku adalah orang asing yang tiba-tiba hadir dihidupmu dan berharap akan mewujudkan satu persatu imajinasiku. Aku, adalah orang yang selalu berharap apa yang kita harapkan akan benar-benar terjadi.

-LC21-

Tentang Kau dan Hujan

Ada sebuah rasa di telaganya yang sulit didefinisikan, ingin sekali diungkapkan namun tak pernah sanggup terucap. Lidah seketika kaku, dan jari seketika membeku saat diharapkan bisa menjadi perantara rasa itu.

Kau tahu? sama seperti tanah yang selalu merindukan hujan, seperti itulah aku yang selalu merindumu.

Kau tahu mengapa aku selalu setia pada hujan dalam setiap syairku? Karena hujan tak penah jera terjatuh hanya untuk bertemu tanah. Pun dia tak pernah merasa sakit untuk kita bisa nikmati indahnya pelangi.

Dan, kau tahu mengapa aku mencintai hujan? Karena hujan membuatku tersadar, walau sering dikutuk, dia tetap selalu menyejukkan. Dan yang harus kau tahu, akan lebih menyejukkan bila ada didekatmu.

Aku memang bukan ahli dalam merangkai aksara. Tapi setidaknya kali ini aku ingin membiarkan setitik cahaya di telaga kalbuku, menyeberang ke telaga kalbumu untuk saling berbicara tentang apa yang masing-masing rasakan.

Kumohon dengarkanlah, tak mudah menjaga rerintik hujan itu agar tetap diperaduannya. Bahkan setiap rintiknya, penuh dengan semua hal tentangmu. Kau tahu? Aku selalu bertutur pada-Nya agar selalu bisa merasakan kesejukan setiap bersamamu.

-LC21-

Dibalik Rangkaian Aksara

Dibalik Rangkaian Aksara
Oleh : Deta Oktariani

Bukan satu atau dua kali
Rerintik kristal itu jatuh
Dan lenyap bersama halusnya usapan jemari
Dibalik rangkaian aksara yang telah tertata
Hilangkan gejolak yang sebenarnya

Kutahu itu, pancaran mata yang tak bisa pungkiri
Sesuatu yang sama dari dua telaga hati
Milikmu, juga milikku
Ah, Untuk apa?
Bagiku, hal tentangmu lebih penting dari itu semua

Aku tak kuasa menerawang pikiranmu
Hingga saat kristal itu jatuh karenamu
Pernahkah kau pahami?
Ah sudahlah, biarkan denting-denting waktu sampaikan
Nanti, saat ku tak lagi mahir merangkai aksara




Bengkulu, 25 Januari 2015

Puisi : Elegi Waktu

Elegi Waktu
Oleh : Deta Oktariani



Malam ini hening menyekapku
Buatku terdampar ke pengasingan sanubari
Telaga kelam dengan setitik cahaya
Kecil, tapi cukup menerangi


Aku bertutur dengan sunyi
Masih tentang sesuatu
Yang juga kuperbincangkan dengan sang waktu
Bahkan dengan Sang pemilik waktu


Duhai waktu
Beriku sedikit saja darimu
Untuk teriakkan rasa yang tak pernah meredam
Yang selama ini kuteriakkan
Tanpa pernah mampu menembus batas telaga kalbu


Bengkulu, 09 Oktober 2014

Puisi : Rintik Halus

Rintik Halus
Oleh : Deta Oktariani

Dengarkanlah
Rintik haluskah yang buatmu gundah?
Aku tahu, pasti sesuatu di balik itu

Pertanyaan berkelit di tengah renyuhnya hati
Mengapa hati tak pernah seiring dengan raga?
Saat raga terasa sejuk dengan hadirnya rintik halus itu
Hati malah berharap rintik halus itu segera lenyap

Salahkah bila hati tiba tiba gentar?
Salahkah bila rasa sulit di tafsirkan?
Saat hati mulai bertanya
Mengapa hadirnya rintik halus itu selalu buat hatiku gundah?

Ah! Aku pemiliknya pun tak pernah tahu!

Puisi : Malaikat Dibalik Hujan

Malaikat Dibalik Hujan
Oleh : Deta Oktariani


Dikala itu hujan mendekapku
Melalui setiap bulir-bulirnya yang merajam
Yang selalu resahkan jiwa, sejukkan raga
Seolah yang dirasa, menentang keadaan yang sebenarnya

Dibalik bulir-bulir itu, kulihat bayangan semu
Mereka bilang, makhluk sepertimu itu 'malaikat tanpa sayap'
Selalu sinari resahku, sejukkan kalbuku
Sebagian menyebut makhluk sepertimu 'sahabat'
Tanpa henti lukiskan tawa dihariku

Kala ini, kau seperti tenggelam di dasar samudera
Yang ikut mengalir bersama setiap bulir hujan
Tanpa arah, tanpa tujuan
Kumulai simpulkan arti malaikat tanpa sayap
Datang, hadir, dan pergi sesukanya

Dengar aku, pelukis tawaku
Takkan pernah kuhapus dirimu dari memorian indah dulu
Tak peduli seberapa meresahkannya hujan, aku takkan pernah memakinya
Setidaknya, dibawah langit yang sama, kita kan tetap rasakan hujan yang sama :)

Bengkulu, 15 Juli 2014

Puisi : Denting irama Rasa

Denting Irama Rasa
Oleh : Deta Oktariani


Denting denting serpihan rasa yang berirama
Tak usainya suarakan transparansi nada
Bahkan molekul udara pun tak kubiarkan menebarnya
Biarlah tersimpan rapat dalam kotak kecil di dasar telaga kalbu

Ku ukir goresan goresan tinta nan abstrak
Seabstrak irama rasa yang tak terdefinisi
Izinkanku lantunkan sajak sajak tanpa suara
Izinkanku merasa apa yang mungkin tak kau harapkan

Lihat aku, kasih
Kuhanya mampu goreskan sajak sajak indah untukmu
Tanpa pernah mampu lantunkan semua dihadapanmu
Kuhanya mampu biarkan rerintik kristal aliri wajahku
Tanpa pernah mampu teriakimu akan rasaku

Biarkanku tenggelam bersama rasaku
Kan kubiarkan semua hanyut dalam aliran sungai luka
Kurasakan detak gelora jiwa

Mengapa terus menggebu walau telah teriris luka?

Puisi : Dengan Sehalus Rasa, Hidup ini Indah :)

 Dengan Sehalus Rasa, Hidup Ini Indah
Oleh : Deta Oktariani


Secarik rasa menyendiri
Menepis getir dikala sepi
Hujan, dengan hembusan angin malam
Seketika menelisik ke relung kalbu, tak dapat terdefinisi

Semilir lirih kian menjadi
Terpa angin tumbangkan perih
Lalu apa? Siapa yang peduli?
Perih itu.. ntahlah

Dikeheningan ruang menyendiri
Tiba-tiba sesuatu buyarkan lamunanku
Gejolak hati seketika muncul
Buat apa kurapuh?
Dengan sehalus rasa yang kumiliki, hidup ini indah

Tak ada yang perlu dirisaukan
Selama hati masih diatur oleh Nya
Selagi rasa masih milik kita
Tetap saja, hidup ini indah :)

Bengkulu, 27 Mei 2014

not just a little things

it's words, which I write before sleep tight in the night
.
.
.
.
every 'little things' that we never think
every 'little things' that we never feel
that's an only 'little things' (according to me)

someday when we understand that it's more than 'little things'
and we understand that someone is more than 'little things'
and we regret never feel and understand it before

when someone always there in our mind
when someone always can make us smile though he didn't in front of us
it's means that he more than 'little things'

when the condition is impossible to feel
when the condition force me to silent
and I don't know what can I do at that time

it's not a 'little things' cause it's involve two people with their two hearts
and I can't play the game

oh help me help me
let me do something which can make me happy
let me say anythings honestly
let me do anything I like to do
let me get my happiness after my rain
but I can't
I still can't do anything right now
cause it's not just a little 'things'