Saturday, 5 July 2014

Cerpen : Khanza, Lembar Hampa

“Ah sudahlah” batinnya. Asa seakan tlah menghilang dari benak Khanza, seorang remaja cantik, berkulit putih, dengan jilbab yang menjulur ke tubuhnya yang mungil. Malam ini masih sama seperti malam malam sebelumnya. Khanza menatap langit langit kamarnya dengan pikirannya yang ntah kemana. Ya, begitulah. Raga, hati, dan pikirannya memang tak pernah berada di tempat yang sama. Gadis yang terlihat selalu riang ini, selalu menyibakkan tanya di benaknya.
Sudah sejak lama dia menyimpan banyak sekali tanya. Pertanyaan pertanyaan yang seakan tak pernah bisa dijawab, dalam pandangannya. Kebanyakan teman temannya menjulukinya “drama queen”, ratu drama. Bagaimana tidak, setiap kali melihat hal yang membuatnya miris, wajahnya yang selalu diiringi rona merah, langsung berubah menjadi pucat pasi. Tak segan, sesekali ia meneteskan air mata.
Sebenarnya, Khanza hanya seorang gadis mungil yang dikaruniai hati yang sangat sensitif, melebihi tingkat sensitif wanita pada umumnya. Tapi seolah acuhkan semua cibiran tentang dirinya, Khanza hanya tersenyum menyikapi semuanya. Baginya, mendapatkan jawaban dari semua pertanyaannya adalah hal yang terpenting. Otaknya seakan berputar lebih cepat. Mencoba mencari inti dan solusi dari semua tanyanya.
“mengapa anak sekecil itu sudah mencari nafkah sendiri? Bukankah seharusnya dia sekolah?”
“mengapa anak sekecil itu mencuri? Pasti ada yang mempengaruhinya”
“mengapa banyak pengemis berkeliaran disetiap lampu merah? Kebanyakan mereka adalah orang lanjut usia. Tidakkah anaknya menafkahi orang tuanya?”
“mengapa uang membatasi semuanya? Mengapa seolah yang hanya boleh hidup tenang adalah orang orang yang beruang?”
“mengapa anak sekecil itu sudah gila? Apa yang dia pikirkan? Bagaimana bisa terjadi? Kemana orang tuanya? Kemana keluarganya?”
            Ya, memang tak biasanya remaja berusia 16 tahun sudah memikirkan hal seperti ini. Tapi Khanza merasa kota ini terlalu berantakan. Semua penghuninya seakan terlalu egois tanpa pernah memperhatikan orang disekitarnya. Apa bukti wajib belajar 9 tahun? Toh masih banyak yang putus sekolah. Mana janji janji sang petinggi mensejahterakan rakyat? Yang terlihat malah mereka mensejahterakan orang orang yang sudah sejahtera.
***
            Mentari sudah beberapa kali terbit dan tenggelam mengikuti alurnya setiap hari. Tapi Khanza merasa seakan tak pernah menemukan titik temu dari permasalahan yang dia pikirkan. Dia merasa dirinya hanyalah lembaran hampa dalam buku tebal yang ‘katanya’ merupakan kota yang tlah terorganisir dengan baik. Ya, lembaran hampa. Lembaran yang ada ataupun tidak, tak mempengaruhi buku itu.
“Za!” ujar Tara yang ingin mengejutkan Khanza yang tampak melamun. Tapi Khanza terlihat tak ada reaksi.
“Khanzaaa!!!” teriak Tara lagi.
“heh, iya apa?” jawab Khanza gelagapan. Sepertinya Tara berhasil membuyarkan lamunan Khanza sejak sepuluh menit yang lalu.
“ada film baru di bioskop. Nonton yuk!” ajak Tara dengan penuh harap. Sebenarnya Tara tahu sahabatnya yang satu ini tak pernah bersedia jika diajak ke yang kurang bermanfaat seperti ini. Tapi dia sangat berharap Khanza berubah pikiran kali ini.
“wah, nggak deh” ujar Khanza halus.
“yaah Za, ayo dong, aku bayarin deh” bujuk Tara lagi.
“hmm, nggak deh Ra, maaf ya. Ajak yang lain aja deh” jawab Khanza lagi yang diiringi dengan senyum ikhlasnya.
“yaudah deh” jawab Tara dengan nada tampak kecewa.
            Ya, Khanza terlalu pemikir. Terkadang dia tidak peduli dengan dunia remajanya. Dia berbeda dengan teman temannya yang menikmati masa remajanya. Dia lebih senang bergelut dengan laptopnya dan dunia maya yang tersedia dalam laptopnya itu. Beberapa teman yang sempat dekat dengannya terkadang memilih untuk menjauh karena merasa tak dianggap dengan Khanza. Dia lebih memerhatikan benda mati yang seakan bernyawa dibandingkan teman teman yang ada didekatnya.
***
            Embun pagi seakan menyejukkan rasa. Semilir angin dipagi hari meniup dedaunan yang tampak melambai lambai dengan indahnya. Hari libur seperti ini, waktunya remaja remaja untuk menenangkan pikiran sejenak dari sekian banyak pelajaran yang menjelumet di otak mereka. Sebagian ada yang memilih ke tempat rekreasi, ada yang jalan jalan bersama keluarga, hunting bersama teman teman, bahkan ada yang menghabiskan waktunya untuk tidur seharian. Bagaimana dengan gadis mungil satu ini?
“nak, bantu mama sebentar kesini ya” ujar mama sedikit berteriak.
“iya ma, sebentar ya” jawab Khanza yang tak pernah lepas dengan laptopnya. Ntahlah, sepertinya tak pernah habis habisnya yang dia lakukan bersama laptopnya itu.
“oke, di save. Ya, selesaii” ujar Khanza senang. Usai itu, gadis berjilbab pink soft itu segera menemui mamanya yang sejak tadi memanggilnya.
“ada apa ma?” tanya Khanza
“tolong mama ya, belikan cabai di pasar depan. Ini mama mau masak, cabainya habis.” Pinta mamanya.
“oh, oke deh ma. Kunci motornya mana?” jawab Khanza.
“itu, diatas meja tengah. Jangan nyangkut ya. Mama mau cepat ini.” Ujar mamanya yang tahu tabiat anaknya.
“hehe, okedeh ma” sahut Khanza lagi.
            Khanza segera menghampiri kunci motornya, dan segera pergi. Dia mengendara sangat pelan, sambil menengok dan memperhatikan keadaan sekitar. Sesekali hampir saja dia tertumbur kendaraan lain didepannya dan tak jarang dia diklakson pengendara lain.
            Anak anak yang berlari kian kemari di lampu merah, begitu lucunya, seharusnya. Dimata mereka tersirat luka saat melihat anak lain seusia mereka lewat mengenakan pakaian sekolah. Sesekali terlihat dari sudut mata Khanza, mereka mengalihkan pandangan dari apa yang mereka lihat. Ntahlah kemana orang tua mereka. Bagaimana bisa anak anak ini menafkahi hidupnya sendiri?
            *nyitttttt* Khanza ngerem mendadak. Angkutan umum yang berada didepannya tiba tiba berhenti menurunkan penumpangnya. Jantungnya terasa berdebar debar. Dengan sigap, dia mengendara ke pasar dengan cepat dan membeli pesanan mamanya. Dan lagi, seketika sampai di pasar gadis perasa itu melihat seorang anak kecil yang sedang lari terbirit birit dan dibelakangnya banyak sekerumunan massa yang meneriaki “copet copeett, tangkap!! Copet”
            Khanza membatin, “anak kecil? copet? Bagaimana bisa?”. Usai membeli cabai, Khanza menghampiri sekerumunan anak kecil di pasar itu. Mereka melihat Khanza dengan wajah takut. Sepertinya mereka komplotan anak kecil yang mencopet tadi. Khanza mendekati mereka.
“hai adek adek” sapa Khanza ramah.
“kami bukan pencopet kak, kami bu..” ucapan mereka diseka oleh Khanza cepat.
“loh emang siapa yang bilang kalian copet? Sini kakak cuma mau ngobrol kok” ujar Khanza menenangkan mereka.
“kenapa kalian kumpul disini? Nggak sekolah?” tanya Khanza lagi
“sekolah? Penting ya kak? Emang kalau sekolah bisa dapat duit?” celetuk seorang dari mereka. Khanza sontak kaget mendengar jawaban mereka.
“sekolah itu emang nggak langsung bisa dapat duit. Tapi kalau sekolah kalian kan bisa jadi pintar, nah kalau pintar..”
“bisa dapat duit?” potong mereka lagi. Khanza terdiam. Pola pikir mereka seakan telah diracuni oleh uang, uang dan uang.
*one call from mama*
“waduh, mama udah telepon. Dek, besok besok kakak kesini lagi ya, kakak mau pulang dulu. Ini kakak punya uang dikit buat jajan, cukuplah ya, bagi bagi ya” ujar Khanza dan segera pergi.
            Khanza segera menuju motornya, tak peduli lagi apa yang terjadi di kiri dan kanan. Yang ada dipikirannya, bagaimana bisa sampai rumah dengan cepat. Beberapa menit kemudian, akhirnya dia tiba dirumah. Dan..
“mama kan udah bilang jangan nyangkut, kamu ini” ucap mama yang sudah menunggu di depan rumah.
“hehe, maaf ya ma. Tadi.. hmm.. tadi..” Khanza bingung alasan apa yang harus dia utarakan. “tadi aku ketemu temen, dia tanya tugas sama aku makanya lama, maaf ya ma” ujar Khanza manja.
“yaudah deh” sahut mama.
            Khanza kembali ke kamarnya, menemui laptopnya. Kali ini dia lebih serius lagi, seakan ada lampu hijau dibenaknya untuk keyword yang akan dicari. Dan “nah, ini dia! Pokoknya aku harus cari tau!” Ujar Khanza.
***
            Pagi ini, Khanza lebih bersemangat ke sekolah. Dia datang dengan cepat, dan langsung celingak celinguk seakan mencari seseorang. Matanya berbinar saat melihat seseorang yang dicarinya sejak tadi yang baginya akan menjawab semua tanyanya selama ini.
“Taraaaaa” teriak Khanza memanggil Tara. Tara kaget, tak biasanya Khanza seperti ini.
“kenapa Za? Ada apa?” tanya Tara.
“aku mau ikut nonton dong” ujar Khanza lagi.
“hah? Kamu mau ikut nonton? Yakin?” jawab Tara lagi.
“iya aku yakin. Ayo dong. Nanti ya pulang sekolah langsung. Aku udah bawa baju buat ganti nih. Aku juga udah bawa uangnya. Ya ya ya?” bujuk Khanza. Tara bingung. Disatu sisi, dia senang dengan perubahan Khanza. Disisi lain, dia menerka apa yang terjadi dengan sahabatnya satu ini.
“kamu demam Za?” tanya Tara seraya memegang kening Khanza.
“ih Tara, apa deh. Aku nggak demam kok, aku pengen nonton” ujar Khanza lagi.
            Pulang sekolah, Khanza seperti sangat antusias untuk menonton. Ntah apalah yang ada dibenaknya saat itu. Yang jelas, dia takkan pernah melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat. Tapi ntah apa kali ini. Mungkin dia hanya sekedar ingin menyegarkan otaknya.
            Sesampainya di bioskop dan saat film dimulai, Khanza menonton film itu dengan serius. Dia seakan meneliti kata demi kata yang diucapkan oleh pemeran pemerannya. Matanya seakan tak diizinkannya berkedip sedikitpun. Ya, sepertinya dia sangat menikmati alur cerita.

            Usai sudah film pertama yang ditonton full oleh Khanza. Wajahnya seketika berseri seri, senyumnya sumringah. Matanya berbinar seakan mendapatkan titik terang usai menonton film itu. Dia membatin “ternyata, tak selamanya yang aku anggap selama ini nggak penting itu memang nggak penting. Ternyata apa yang selama ini aku anggap nggak penting, bisa mengubah sebuah lembar hampa menjadi lembar penuh makna.”

4 comments:

  1. Nice Gan, *sekedar saran background dengan isi content belum sesuai supaya pengunjung fokus dengan isi content Agan.. Hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wahaha makasih gan :v tolong bimbingannya gan :v

      Delete
    2. Okee Gan, lanjutkan.. Terus berkarya.. :D

      Delete

Give your comments and critics here :)