Saturday, 5 July 2014

cerpen : Bulan pun butuh waktu untuk bersinar

Cinta? Apa itu cinta? Pantaskah seorang remaja merasakan cinta kepada lawan jenis lalu menggubrisnya dengan fanatik? atau malah membiarkannya terpendam di dalam hati yang suci?
            Cinta? Mengapa tokoh pemerannya tampak begitu munafik? Ah, mungkin itu hanya rangkaian pertanyaan yang sangat basi untuk di perbincangkan. Ya, bagi saya. Tapi mungkin tidak bagi remaja yang lain. Yang selalu memuja cinta, bahkan mungkin mereka sendiri belum tahu makna yang sebenarnya. Apa saya mengerti banyak tentang cinta? oh, tentu saja tidak. Tapi bagi saya, cinta di saat remaja hanyalah bullshit1 belaka.
            Saya Jeany. Seorang mahasiswi semester satu di sebuah universitas yang terletak di kota kecil di Indonesia. Usia saya 17 tahun. Percaya atau tidak, saya sudah sering jatuh cinta. oh, tidak. Sesuatu yang menyerupai jatuh cinta.
            Mungkin sangat munafik bagi sebagian besar remaja menilai saya saat ini. Terlebih bagi orang orang yang mengenal saya, karena saya bukanlah termasuk remaja yang tak mengenal ‘pacaran’. Justru opini opini yang sudah saya anggap fakta itu saya haturkan karena saya pernah mengalaminya. Rasa cinta adalah sesuatu yang fitrah, yang di berikan oleh-Nya kepada kita para ciptaan-Nya. Rasanya, sangat mustahil untuk remaja seusia saya ataupun lebih muda dari saya tidak pernah sekalipun merasakan ‘jatuh cinta’ karena itu adalah hal yang alamiah. Tapi, apa perlu rasa cinta itu di realisasikan dengan status “pacaran”?
***
            “Jean?” panggil Oka mengejutkanku. Tak biasanya ia memanggilku selembut ini, bahkan se gemetar ini. Biasalah Oka, manusia super periang dan super tidak jelas, tapi dia sangat berbeda saat ini. Dalam hati ini ku yakin, pasti ada sesuatu yang merisaukan hatinya. Oka adalah sahabatku, lelaki yang selalu bersedia menjadi tempat berbagi dan ikhlas membantu ku dalam segala hal, kapan pun dalam hal apapun.
            “ya? Kenapa Ka? Jatah bulanan habis?” candaku mencairkan suasana. Raut wajah Oka pun semakin tak karuan, dan akhirnya aku memutuskan untuk memanggilnya kembali. “Ka?” Oka tetap diam, namun dia mulai melihatku, lalu mulai angkat bicara “ nggak, aku cuma mau kamu anggap kita kayak nggak pernah kenal.  Aku harap kamu bisa ngelupain semua hal yang pernah kita lakuin sama sama”. Sahut Oka lirih. Ini sungguh di luar dugaanku. Aku terdiam, tak bisa berkutik hanya karena mendengar segelintir ucapan itu. Aku menahan air mata, tak ingin terlihat luka di depan sahabatku yang selalu membuatku tersenyum. Oh, tidak selalu. Saat ini contohnya. Sangat sangat menyakitkan. Sejenak aku berpikir, ada apa dengan sahabatku? Apa yang membuatnya begitu mudah memutuskan persahabatan ini? Apa? Apa karena aku yang salah?
“apa? Kenapa? Kamu bilang kamu udah nganggap aku sahabat. Kamu bilang kamu bakal terus sama sama aku. Kita punya mimpi yang besar untuk kita gapai bersama. Sekarang kenapa dengan mudahnya kamu bilang kayak gitu? Kenapa?” tak sanggup air mata ini menahan dirinya di singgasananya sehingga jatuh membasahi wajah yang pucat pasi ini. Oka kembali terdiam. Sebenarnya aku tahu apa yang dia rasakan saat ini. 3 tahun bukan waktu yang singkat untukku mengenal Oka. Tapi perasaan ini sudah tak karuan karena segelintir ucapan yang sampai saat ini masih ku anggap hanya mimpi. Oka tetap terpaku dalam diam. Tanpa sadar aku sedikit membentaknya.  “Ka,  jawab !”. Oka yang dari tadi tertunduk, akhirnya mengangkat muka. “aku nggak mau jadi benalu untuk ke sekian kali. Aku nggak mau kejadian yang sama terulang lagi. Aku lihat kamu bahagia sama dia. Lebih baik aku yang pergi !”. Aku terdiam.
Sekitar dua tahun yang lalu, ‘kekasih’ yang ntah apalah itu aku pantas menyebutnya, memutuskan untuk mengakhiri hubungan tali kasih, hoahh, apalah itu aku sama sekali tak peduli lagi dengan itu. Aku juga tak pernah menyangka aku pernah tersangkut dalam ikatan yang tak jelas itu. ‘dia’ mengakhiri itu semua hanya karena merasa Oka lebih di prioritaskan di bandingkan dirinya sendiri. Yaa, itulah yang di maksudkan Oka. Dia merasa dia telah merusak kebahagiaanku, padahal aku sama sekali tak peduli.
“kamu mau kita nggak saling kenal? Hanya karena kejadian itu? Aku udah nganggap kamu sahabat, bahkan lebih dari itu. Dengan gampangnya kamu minta aku pura pura nggak kenal kamu? Etiskah itu?” tetes demi tetes air dari singgasananya pun terus terjatuh tanpa henti, dan semakin waktu berjalan, tetes air itu bertambah deras. “kamu beda Jean. Aku punya banyak sahabat wanita tapi aku nggak pernah ngerasain
hal yang aku rasain ke kamu. Aku nggak bisa bohong tentang ini. Tapi sekarang apa? kamu dekat sama dia, dan kayaknya kamu bahagia banget. Dia juga nggak pernah suka aku dekat sama kamu, lebih baik aku menjauh dari kalian berdua” Oka pun berjalan menjauh. Aku menjawab sambil sedikit berteriak “kamu egois. Sekarang kamu udah sama dia baru kamu ngomong tentang hal ini. Kamu cuma mikirin diri kamu sendiri”. Oka sedikit menoleh, “maaf”. Cuma itu yang di ucapkannya terakhir sekali. Miris, perih.
 “duarrr” balon balon itu pun ku pecahkan dengan penuh kekesalan. Kesedihan ini bukan hanya semata mata karena dia pergi, tapi aku sedih karena dia mengungkapkan semua itu saat dia telah dimiliki seseorang lain. Aku menganggapnya sebagai sahabat. Ya, sahabat terbaik. Tapi tak pernah bisa aku munafikkan rasa yang sebenarnya sama dengan apa yang dia ungkapkan. Ah, sudahlah.
***
“jean?” sayup sayup suara itu ku dengar. “hey Jean !” oh ternyata benar, ada yang memanggilku. “ya, ada apa?” jawabku lemas. “kamu kenapa? Sakit? Mikirin apa? Tugas ya? Ada yang bisa aku bantu?” pertanyaan bertubi tubi itu membuat ku tersadar, ternyata barusan aku sedang hanyut dalam arus ingatan setahun yang lalu, saat seseorang yang merangkap perannya di hidupku, pergi tanpa kabar dan hingga saat ini tak pernah ku dengar kabar tentangnya lagi.
“nggak kok, aku nggak apa apa, engg, aku cuma.. hmm, Cuma mikirin UAS besok, hehe”. Sosok di depanku pun tersenyum, “sudahlah, jangan terlalu di pikirkan. Saatnya refreshing sekarang”. Aku tersenyum, dalam hatiku membatin “Ya Allah, salahkah aku saat ini? Sosok di depanku ini sangat baik, dan tak pernah bosan menghiburku bagaimanapun sikapku. Tapi ntahlah. Yang tlah lalu sangat buruk dan menyakitkan sehingga aku tak terlalu peduli dengan hal seperti ini lagi”.
Dia Yoga. Ya, kami jadian lebih dari sebulan yang lalu. Ini tak lebih karena permintaan teman temanku karena aku selalu curhat tentang Oka yang tak jelas kabar dan keberadaannya. Oh, jangan berpikir aku hanya akan mempermainkannya, atau hanya menjadikannya pelampiasan. Seperti yang ku katakan tadi, bagiku cinta saat remaja ini hanyalah bullshit  belaka. Menjalani hubungan dengan sepenuh hati saat remaja, apakah menjamin akan menjadi sepasang kekasih yang halal suatu hari nanti? Apakah dengan hubungan yang bertahun tahun menjamin bahwa dialah jodoh kita?
Ya, memang hal ini tidaklah sepantasnya di bahas oleh remaja seusiaku. Yang harus ku kejar, ku jalani, dan ku perhatikan adalah ikuti alur cerita hidup, belajar, dan kejar IP dan IPK yang tinggi. Ya, itu juga impianku. Malah mimpi ku lebih besar. Aku ingin melanjutkan study ku ke institut teknologi yang terbaik di dunia. Sepertinya fantastis sekali mimpiku. Dari universitas yang tak di pandang ke universitas yang sangat terkemuka. Tapi itulah aku, BIG DREAMER.
***
            “udahlah Jean, jangan egois, jangan mikirin ego kamu sendiri. Toh sekarang semuanya udah terjadi, ya jalani aja lagi sekarang” Fira adalah teman dekatku saat ini. Dia yang menganjurkanku untuk mulai membuka hati untuk orang lain. Sebenarnya aku sangat ragu saat itu. Memulai lagi hubungan ‘tidak jelas’ lagi? Rasanya malas sekali. Tapi aku yakin, sahabat selalu inginkan yang terbaik.
            “hmm, iya Fir, tapi kayaknya aku nggak bisa deh terus terusan kayak gini. Aku yang ngerasa bersalah. Dia baik banget. Sedangkan aku?” Fira tersenyum, “Jean, nggak semuanya harus instan, kamu kan udah lama kosong..” aku tertawa kecil memotong pembicaraan Fira “hah? Kosong? Apaan yang kosong? Hihi” celetuk ku sedikit meggoda Fira. Fira ikut tertawa kecil “tuh kan, giliran di kasih tau aja, main main mulu2. Serius nih akunya”. Aku pun tersenyum nakal, sedikit mencibir ke Fira “iya iya sahabatku tersayang, lanjutin gih” . “tau ah, bete” jawab Fira lagi. “yaah yaah ngambek” jawabku sedikit cemas. Fira pun tertawa, “nggak kok, jadi gini, menurut aku yaudah kamu jalanin aja sama Yoga, tapi yaa, yang tau juga cuma hati kamu sih, mending kamu pikirin baik baik, daripada ntar kamunya nyesel. Yang lalu jangan di ungkit terus loh Jean. Yang di pikirin tu yang akan datang, bukan yang udah lalu.”
            Aku tambah pusing. Kalau kata mereka, “Gegana”, gelisah, galau, merana. Oh tidak, itu terlalu alay. Akhir akhir ini, aku sering menyendiri, pusing sendiri, dan tanpa di sadari ada cairan yang mengalir dari mataku. Aku sendiri tak tahu itu darimana datangnya. Penyebab kegundahan ku saat ini pun, aku tak paham. Yang aku tau, perasaan ini sangat tidak enak dan tak menentu. Ada yang mengganjal disini.
***
            Okay, hari ini UAS pun tiba. Seperti biasa, kalau ini kepala udah mumet nggak ada yang namanya belajar walau dalam kondisi apapun. Untungnya, ada waktu sekitar 3 jam lagi sebelum UAS. Jadi waktu yang singkat inilah yang aku manfaatkan untuk belajar 12 chapter dengan akumulasi sekitar 300 halaman hahaha. Jadi yaa, kurang lebih 100 halaman di habiskan dalam satu jam, hihi. Oh, I’m Wonderful3 ;)
***
*new message*
“Jean, kamu dimana? Dosennya udah masuk nih, cepetan di tunggu 10 menit lagi”
            Astaghfirullah, ini nyampe kampus masih sekitar 15 menit lagi, dan waktu tenggang tinggal 10 menit lagi? Oh Noooooo. Kecepatan 40 km/jam berubah menjadi 80 km/jam. Dan huah, sayaa sampai hihi. Dengan berlari ke arah kelas, dan akhirnyaa aku pun sampai ke kelas yang sudah hening, tetapi alhamdulillahnya ujian belum di mulai. Dengan ngos ngosan, aku masuk dan segera mengambil posisi tempat duduk.
“lo miris banget sih, untung nggak telat. 1 menit lagi lo belum arrived4, lo nggak boleh ikut exam5 tau” ya, ini Shira, mahasiswi dari jakarta yang bahasanya yaa, super gaul. Beda sama bahasa ku dan mayoritas teman temanku disini. Walaupun itu nggak asing, tapi sedikit aneh kalau di pake di sini. Bahasanya campuran gitu, bahasa gaul +inggris. “hehe iya, aku tadi kebablasan soalnya tadi malem belum belajar, ngabisin materi tadi pagi, jadi nggak inget waktu” jawabku.
“hey itu yang baru datang. Volumenya di kecilin sedikit ya. Kamu mau ikut ujian tidak?  Nggak mau ambil soal?” spontan satu kelas tertawa. Asli ini malu banget, mana telat, di tegur lagi sama dosen. “hehe iya pak, maaf” jawabku sembari berjalan menuju meja dosen dan mengambil soal. Alhamdulillah, semua materi yang ku pelajari tadi pagi hampir semuanya masuk dalam soal. Jadi nggak terlalu kesulitan dalam mengerjakan. Waktu habis. Tepat sekali aku menuliskan jawaban terakhirku. Dengan sigap, aku mengumpulkan lembar jawaban.
***
“Jean! Kamu beneran nggak belajar tadi malem?” tanya Fira khawatir. “iya Fir hihi” jawabku enteng. “dasar cewek aneh, terus gimana kamu ngerjain soal ujian tadi?” tanya Fira. “ih kepo banget deh” kataku sengaja membuat Fira sedikit kesal. “hihi tenang aja Fir, aku nggak se nekat itu kok, tadi pagi aku baca materinya, makanya ini sampe telat “ lanjutku menenangkan Fira. Fira tersenyum lega.
“eh Fir, makan yuk” ajakku ke Fira. “oke deh kemana? Tempat biasa?” tanya Fira. “iyalah, dimana lagi, yuk” ajakku sembari menarik tangan Fira. Kami pun segera pergi dari ruangan menuju tempat biasa kami makan saat istirahat. Terlintas di pikiranku saat itu, jelas sekali terjawab semua pertanyaanku. Aku lebih membutuhkan sahabat, kemauan belajar, dan mimpi besarku daripada ‘sesuatu’ yang tak jelas, yang hanya bisa merusak konsentrasi dan ketenanganku untuk saat ini, serta menghambat langkahku meraih mimpi besarku. Tanpa sadar, aku tersenyum segaris.


2 comments:

  1. kurang panjang + kurang lagu pengiring :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. copy paste 2 kali, sambil dengarkan mp3 dari hp/laptop sendiri :v

      Delete

Give your comments and critics here :)